Rabu, 21 September 2016

Dia adalah Bapak





Tak mudah menuliskan tentang dia. Seberapa keras pun aku berusaha untuk merangkai kata-kata manis nan indah untuknya jarang sekali aku berhasil. Tentang dia aku tak mampu untuk mengada-ada.  Hiperbola tak akan pernah berlaku meski dengan itu aku berniat membesarkan namanya. Sepertinya seluruh kosa-kata tak pernah cukup mampu untuk mengutarakan sosoknya. Ya, aku mengaku kekuatan kata-kata begitu luar biasa maka kukerahkan segenap kekuatanku  memutar isi kepala hanya untuk menemukan diksi yang tepat. Ternyata isi kepala tak selalu bisa keluar dengan begitu saja. Aku pikir aku mampu memperkenalkan sosoknya pada dunia hanya dengan isi kepala yang kupunya. Aku salah. Aku tak mengenalnya hanya dengan kepala, ingatan yang kupunya tentang dia tak hanya ada di kepala. Bahkan tentang dia takkan pernah hanya menjadi sebuah ingatan baik saat dia masih hidup maupun kelak ketika dia tak lagi ada bersamaku, di hatiku dia akan selalu hidup. Takkan kubiarkan dia menjadi tinggal kenangan. Kenangan hanya milik mereka yang ditinggalkan sementara aku yakin dia takkan pernah meninggalkanku meski kelak dia pergi jauh atau kelak aku tak lagi bisa melihatnya dengan mataku, menyentuhnya dengan tanganku, mendengarnya memberikan petuah dengan telingaku, mencium bau peluhnya dengan hidungku. Kelak semua inderaku boleh kehilangannya tapi indera itu takkan pernah bisa memanipulasiku karena dia senantiasa mendiami hatiku. Dia adalah bapak.
Mungkin pikirmu tentu saja aku bisa berkata demikian, dia adalah bapakku. Dalam darahku mengalir darahnya. Lewat wajahku terpancar wajahnya. Secara genetika pun aku tak terpisahkan darinya. Tapi hubungan darah sama sekali bukan alasan kamu terkesan kepada seseorang hingga mengidolakan orang tersebut. Tanpa perlu aku sebutkan pun kita tahu ada begitu banyak orang yang sangat-sangat membenci ayahnya, membenci ibunya atau sebaliknya. Di tempat lain lagi ada begitu banyak orang yang tak memiliki hubungan keluarga sama sekali, bukan sanak famili, atau bahkan tak pernah bertatap-muka barang sekali tapi menganggap orang tersebut istimewa, hingga orang tersebut begitu berpengaruh dalam hidupnya. Seseorang dapat begitu berarti bagimu tak melulu soal siapa dia tapi apa pengaruhnya terhadap hidupmu, mungkin itulah sebabnya manusia selalu ingin memberi pengaruh terhadap orang lain terlepas dari baik buruknya pengaruh yang dia berikan. Begitu pun bapak sepak-terjangnya di tengah-tengah keluarga terlebih kepadaku membuat dia cukup pantas bahkan sangat layak untuk diidolakan dan dibanggakan.
Bapak hanyalah seorang petani miskin. Rasanya sangat memalukan untuk menyebutnya seorang petani karena seorang petani sudah seharusnya memiliki lahan sendiri paling tidak barang setapak. Tapi bapak hidup bergantung dari beberapa petak sawah yang dia sewa. Jika sebelum dilahirkan ke dunia Tuhan bertanya kepadaku terlebih dahulu apakah aku mau dilahirkan lewat benihnya, sepertinya aku akan menjawab tidak saat itu. Siapa yang ingin terlahir dari seorang petani miskin jangankan untuk mengejar impian masa depan, untuk lauk santapan sehari-hari pun harus puas dengan ikan asin. Namun aku bersyukur Tuhan tak bertanya demikian, aku berterima kasih karena kita tak mampu memilih dari siapa kita akan lahir. Memilih tak selalu mudah. Pilihan-pilihan kita juga tak selalu tepat bahkan lebih sering melesat. Kalaupun aku boleh memilih siapa yang akan jadi orangtuaku bisa saja aku memilih orangtua yang tidak tepat. Tapi Tuhan tidak pernah salah memilih dia menempatkan kita ditengah-tengah keluarga yang tepat dengan bapak yang tepat, ibu yang tepat, juga saudara-saudara yang tepat. Terlahir menjadi anak bungsu dari empat bersaudara di tengah-tengah keluarga petani miskin itu adalah nikmat Tuhan luar biasa yang tak pernah bisa kupungkiri. Memiliki bapak yang jalan hidupnya penuh dengan bebatuan tajam, duri yang menusuk tak terperi membuat petualanganku di dunia ini selalu menarik dan penuh kejutan. Hasil tani bapak yang morat-marit tak menyusutkan keberhasilan bapak sebagai seorang kepala keluarga di mataku. Kelemahan ekonomi keluarga kami sama sekali tak mengurangi kekuatan bapak bagiku. Aku bisa melihat semangatnya yang berkobar. Jerih payahnya yang tak pernah goyah. Kegigihan yang tak mengalah pada pahit getir kehidupan. Keberadaannya yang tak punya apa-apa justru membuatku melihat bahwa dia memiliki segalanya yang harus dimilliki seorang bapak.
Bapak seorang pemimpi. Tak dihiraukannya orang yang berkata, “tak tahu diri, tak punya apa-apa malah menghantarkan anaknya ke bangku kuliah”. Diabaikannya celotehan tetangga yang mengejek tak habis-habisnya. Dia fokus pada apa yang menjadi tujuannya. Suatu kali saat aku masih sangat kecil dia dengan tegas berkata, “Ta, kelak rumah butut kita ini akan berganti gedong. Tak ada lagi atap yang bocor. Lantai yang bolong-bolong. Di depan rumah kita akan terparkir mobil milik kalian. Bapak bisa duduk bersantai di depan rumah sambil menyeruput kopi dan memandang ke jalan dimana dahulu dari sana datangnya penghinaan”. Beberapa tahun belakangan apa yang dikatakan bapak ketika aku kecil dulu menjadi kenyataan. Orang-orang yang sempat menghina bapak dulu tertunduk malu.
Belum pernah aku memberikan sesuatu yang berharga wujud cintaku pada bapak. Bahkan saat aku menelepon ke hpnya pertanyaanku selalu sama, “Halo Pak, mamak mana?” itu pun tak ada protes darinya, malah selalu menyebut dia berbahagia kami begitu peduli terhadap istrinya. Mungkin guratan sederhana ini dapat menyenangkannya. Aku tahu bapak ingin sekali aku menulis tentang dia. Itu saja.
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar