Tak
mudah menuliskan tentang dia. Seberapa keras pun aku berusaha untuk merangkai
kata-kata manis nan indah untuknya jarang sekali aku berhasil. Tentang dia aku
tak mampu untuk mengada-ada. Hiperbola
tak akan pernah berlaku meski dengan itu aku berniat membesarkan namanya.
Sepertinya seluruh kosa-kata tak pernah cukup mampu untuk mengutarakan
sosoknya. Ya, aku mengaku kekuatan kata-kata begitu luar biasa maka kukerahkan
segenap kekuatanku memutar isi kepala hanya
untuk menemukan diksi yang tepat. Ternyata isi kepala tak selalu bisa keluar
dengan begitu saja. Aku pikir aku mampu memperkenalkan sosoknya pada dunia
hanya dengan isi kepala yang kupunya. Aku salah. Aku tak mengenalnya hanya
dengan kepala, ingatan yang kupunya tentang dia tak hanya ada di kepala. Bahkan
tentang dia takkan pernah hanya menjadi sebuah ingatan baik saat dia masih
hidup maupun kelak ketika dia tak lagi ada bersamaku, di hatiku dia akan selalu
hidup. Takkan kubiarkan dia menjadi tinggal kenangan. Kenangan hanya milik
mereka yang ditinggalkan sementara aku yakin dia takkan pernah meninggalkanku
meski kelak dia pergi jauh atau kelak aku tak lagi bisa melihatnya dengan
mataku, menyentuhnya dengan tanganku, mendengarnya memberikan petuah dengan
telingaku, mencium bau peluhnya dengan hidungku. Kelak semua inderaku boleh
kehilangannya tapi indera itu takkan pernah bisa memanipulasiku karena dia
senantiasa mendiami hatiku. Dia adalah bapak.
Mungkin
pikirmu tentu saja aku bisa berkata demikian, dia adalah bapakku. Dalam darahku
mengalir darahnya. Lewat wajahku terpancar wajahnya. Secara genetika pun aku
tak terpisahkan darinya. Tapi hubungan darah sama sekali bukan alasan kamu
terkesan kepada seseorang hingga mengidolakan orang tersebut. Tanpa perlu aku
sebutkan pun kita tahu ada begitu banyak orang yang sangat-sangat membenci
ayahnya, membenci ibunya atau sebaliknya. Di tempat lain lagi ada begitu banyak
orang yang tak memiliki hubungan keluarga sama sekali, bukan sanak famili, atau
bahkan tak pernah bertatap-muka barang sekali tapi menganggap orang tersebut
istimewa, hingga orang tersebut begitu berpengaruh dalam hidupnya. Seseorang
dapat begitu berarti bagimu tak melulu soal siapa dia tapi apa pengaruhnya
terhadap hidupmu, mungkin itulah sebabnya manusia selalu ingin memberi pengaruh
terhadap orang lain terlepas dari baik buruknya pengaruh yang dia berikan.
Begitu pun bapak sepak-terjangnya di tengah-tengah keluarga terlebih kepadaku
membuat dia cukup pantas bahkan sangat layak untuk diidolakan dan dibanggakan.
Bapak
hanyalah seorang petani miskin. Rasanya sangat memalukan untuk menyebutnya
seorang petani karena seorang petani sudah seharusnya memiliki lahan sendiri
paling tidak barang setapak. Tapi bapak hidup bergantung dari beberapa petak
sawah yang dia sewa. Jika sebelum dilahirkan ke dunia Tuhan bertanya kepadaku
terlebih dahulu apakah aku mau dilahirkan lewat benihnya, sepertinya aku akan
menjawab tidak saat itu. Siapa yang ingin terlahir dari seorang petani miskin
jangankan untuk mengejar impian masa depan, untuk lauk santapan sehari-hari pun
harus puas dengan ikan asin. Namun aku bersyukur Tuhan tak bertanya demikian,
aku berterima kasih karena kita tak mampu memilih dari siapa kita akan lahir.
Memilih tak selalu mudah. Pilihan-pilihan kita juga tak selalu tepat bahkan
lebih sering melesat. Kalaupun aku boleh memilih siapa yang akan jadi
orangtuaku bisa saja aku memilih orangtua yang tidak tepat. Tapi Tuhan tidak
pernah salah memilih dia menempatkan kita ditengah-tengah keluarga yang tepat
dengan bapak yang tepat, ibu yang tepat, juga saudara-saudara yang tepat. Terlahir
menjadi anak bungsu dari empat bersaudara di tengah-tengah keluarga petani
miskin itu adalah nikmat Tuhan luar biasa yang tak pernah bisa kupungkiri.
Memiliki bapak yang jalan hidupnya penuh dengan bebatuan tajam, duri yang
menusuk tak terperi membuat petualanganku di dunia ini selalu menarik dan penuh
kejutan. Hasil tani bapak yang morat-marit tak menyusutkan keberhasilan bapak
sebagai seorang kepala keluarga di mataku. Kelemahan ekonomi keluarga kami sama
sekali tak mengurangi kekuatan bapak bagiku. Aku bisa melihat semangatnya yang
berkobar. Jerih payahnya yang tak pernah goyah. Kegigihan yang tak mengalah
pada pahit getir kehidupan. Keberadaannya yang tak punya apa-apa justru
membuatku melihat bahwa dia memiliki segalanya yang harus dimilliki seorang
bapak.
Bapak
seorang pemimpi. Tak dihiraukannya orang yang berkata, “tak tahu diri, tak
punya apa-apa malah menghantarkan anaknya ke bangku kuliah”. Diabaikannya
celotehan tetangga yang mengejek tak habis-habisnya. Dia fokus pada apa yang
menjadi tujuannya. Suatu kali saat aku masih sangat kecil dia dengan tegas
berkata, “Ta, kelak rumah butut kita ini akan berganti gedong. Tak ada lagi
atap yang bocor. Lantai yang bolong-bolong. Di depan rumah kita akan terparkir
mobil milik kalian. Bapak bisa duduk bersantai di depan rumah sambil menyeruput
kopi dan memandang ke jalan dimana dahulu dari sana datangnya penghinaan”.
Beberapa tahun belakangan apa yang dikatakan bapak ketika aku kecil dulu
menjadi kenyataan. Orang-orang yang sempat menghina bapak dulu tertunduk malu.
Belum
pernah aku memberikan sesuatu yang berharga wujud cintaku pada bapak. Bahkan
saat aku menelepon ke hpnya pertanyaanku selalu sama, “Halo Pak, mamak mana?”
itu pun tak ada protes darinya, malah selalu menyebut dia berbahagia kami
begitu peduli terhadap istrinya. Mungkin guratan sederhana ini dapat
menyenangkannya. Aku tahu bapak ingin sekali aku menulis tentang dia. Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar