Kamis, 10 November 2016

Ditolak Senja



Senja Tak Bertuan
Kata senja,
“Aku bukan pencuri asa.”
“Aku pun tak mungkin menenggelamkan rasa.”
“Pun aku tak ingin menyambut pekat meski hanya untuk sesaat.”
“Aku tak ingin menyembunyikan terang, karena aku pun suka benderang.”
“Aku tetaplah keindahan walau hanya sebentar.”

Keluh senja,
“Sebut saja aku renta, hingga aku tak bernyawa.”
“Aku tinggal beberapa detik saja maka abaikan pun tak mengapa.”
“ Aku senja yang tak lama.”
“Bisakah kau akui saja, aku tetaplah keindahan walau hanya sementara.”

Senja tak lagi bicara
Sadar semua sedang bersandiwara
Berpura-pura mengagumi dirinya
Ketika jingga menghilang
Cacian yang dia dapatkan

Dalam diamnya senja mengirim sejuta makna,
“Tertawalah menyambut fajar,
Dia memberimu pengharapan,
Lupakan senja yang tergilas hitam malam,
Abaikan asa yang kutitipkan.”

Pinta senja,
“Aku senja tak bertuan, takkan pernah menyimpan kebencian.”
“Aku senja yang kan berlalu, memohon tak tahu malu.”
“Aku senja hendak tenggelam, merintih pada malam.”
“Kiranya jangan kau lupakan keindahanku yang hanya sebentar.”
“Simpanlah rindu untukku meski secuil.”
“Dan sampaikan salamku pada fajar”.