Senja
Tak Bertuan
Kata
senja,
“Aku
bukan pencuri asa.”
“Aku
pun tak mungkin menenggelamkan rasa.”
“Pun
aku tak ingin menyambut pekat meski hanya untuk sesaat.”
“Aku
tak ingin menyembunyikan terang, karena aku pun suka benderang.”
“Aku
tetaplah keindahan walau hanya sebentar.”
Keluh
senja,
“Sebut
saja aku renta, hingga aku tak bernyawa.”
“Aku
tinggal beberapa detik saja maka abaikan pun tak mengapa.”
“
Aku senja yang tak lama.”
“Bisakah
kau akui saja, aku tetaplah keindahan walau hanya sementara.”
Senja
tak lagi bicara
Sadar
semua sedang bersandiwara
Berpura-pura
mengagumi dirinya
Ketika
jingga menghilang
Cacian
yang dia dapatkan
Dalam
diamnya senja mengirim sejuta makna,
“Tertawalah
menyambut fajar,
Dia
memberimu pengharapan,
Lupakan
senja yang tergilas hitam malam,
Abaikan
asa yang kutitipkan.”
Pinta
senja,
“Aku
senja tak bertuan, takkan pernah menyimpan kebencian.”
“Aku
senja yang kan berlalu, memohon tak tahu malu.”
“Aku
senja hendak tenggelam, merintih pada malam.”
“Kiranya
jangan kau lupakan keindahanku yang hanya sebentar.”
“Simpanlah
rindu untukku meski secuil.”
“Dan
sampaikan salamku pada fajar”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar