Kamis, 08 Desember 2016

Melihat Putih di Kelabu




“Tok... tok... tok!” ketukan pintu itu hampir saja membunuhnya. Sejak dua minggu belakangan dia seperti dibayang-bayangi oleh sosok menakutkan. Setiap kali mendengar bunyi langkah kaki mendekat ke arah rumahnya dia dapat mengucurkan keringat dengan deras tiba-tiba. Tak jarang juga dia bersembunyi di balik lemari ketika ada yang berteriak dari luar rumah memanggil namanya. Entah setan apa yang sedang menghantuinya hingga ketenangan yang dia miliki selama ini sirna. Terbang entah kemana. Tak bersisa. Bahkan untuk mengenangkannya saja dia seolah tidak berhak. Dunianya sama sekali berubah. Sifat-sifat asli yang dia miliki terkubur. Bodohnya dia sendirilah yang menggali kubur itu. Dia terperangkap pada jerat yang dia ciptakan sendiri. Semua itu terjadi diluar prediksinya. kesadaran yang dia miliki tak cukup mampu untuk menyadarkannya akan situasi yang dialaminya saat ini.
Dia sama sekali tak memiliki kekuatan meski hanya untuk melangkah mendekat ke jendela dan melihat dari balik jendela siapa yang mengetok pintu dengan irama yang mengejutkan itu. “tok...tok...tok!” sekali lagi ketukan itu menggema dengan nada yang lebih tinggi dan kali ini dia tak mungkin berdiam lebih lama lagi. Dia mengumpulkan seluruh puing-puing keberanian miliknya yang tersisa.  Usahanya tidak sia-sia dia berhasil melangkah menuju jendela. Pelan-pelan dia menyibak tirai yang menghalangi penglihatannya. Pandangannya tak dapat menangkap dengan jelas siapa sosok itu, tapi dia dapat melihat dengan jelas lengannya yang kekar dengan sebuah tato bergambar ular cobra diatasnya.
Detak jantungnya berpacu seperti baru menyelesaikan lari  cepat disaat sesungguhnya dia berharap jantung itu sebaiknya berhenti saja. Satu-satunya hal yang dia inginkan saat itu adalah mati. Lenyap. Musnah.  Keberadaannya sama sekali tak mempunyai arti lagi. Saat rasa seperti itu terus bergelora dalam dirinya, tanpa diduga terdengar suara lembut dari balik pintu itu, “Joy, tolong buka pintunya aku mau bicara”. Dia terpesona dengan kelembutan suara itu. Dia mengingat-ingat kapan terakhir kali dia mendengar suara selembut itu. “Apakah aku mengenal suara ini?” tanyanya dalam hati. Dia sama sekali lupa kalau suara selembut itu pernah membuat gendang telinganya bergetar. “Joy!” sekali lagi caranya memanggil nama itu mampu membereskan suasana hatinya yang sedang tidak karuan. Ya, dia pernah mendengar suara yang sama beberapa tahun lalu, “tapi siapa? Di mana aku mendengarnya?” sambil berpikir keras dia bertanya mencoba mengingat setiap orang yang pernah memanggilnya dengan sebutan “Joy”.
Tidak banyak yang memanggilnya dengan nama itu, hanya orang-orang terdekat dan beberapa sahabat seharusnya akan sangat mudah menemukan pemilik suara itu. Dengan berpikir dia tidak berhasil sama sekali. Seluruh ingatan yang ia punya telah dia bongkar, namun dia masih gagal. Kegagalannya untuk mengingat membuat rasa takutnya raib, dengan santai dia buka pintu itu. Dia tertegun melihat sosok yang berdiri dihadapannya. Sosok itu adalah masa lalunya yang hilang. Sekaligus sosok yang membuatnya tidak karuan, ketakutan, gemetar, juga gentar.
Dua minggu lalu dia datang dengan sikap yang sangat bertolak belakang. Dia datang dengan amarah yang sekian tahun terpendam tak pernah terluapkan. Dua minggu lalu saat untuk pertama kalinya dia muncul lagi setelah bertahun-tahun menghilang dia datang seperti gunung berapi yang siap meledak, memuntahkan awan panas. Dua minggu lalu Joy sampai meronta menerima luapan emosinya. Joy kesakitan tak sanggup menolak awan panas yang dia semburkan. Dia mengamuk kepada Joy seperti orang yang kehilangan akal. Dia bahkan meninggalkan luka lebam di sekujur tubuh Joy. Kejadian itu yang membuat Joy menjadi begitu tertutup. Keceriaannya hilang. Dia dipenuhi rasa takut hingga mengharuskannya menutup pintu dan jendela rapat-rapat meski di siang bolong. Semua itu dia lakukan untuk menghindari sosok pria yang saat ini berdiri dihadapannya.
Hari ini dia datang dengan tampang yang sama sekali berbeda hingga sulit bagi Joy mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Suara yang dua minggu lalu sempat membuatnya tak berani untuk hidup hari ini malah memberinya semangat hidup. Teriakan yang dua minggu lalu begitu membuatnya gentar hari ini malah membuatnya tegar. Sungguh Joy ingin menolak kenyataan ini, nyatanya dia tak mampu. Dia malah menerima dengan rela. Tipu muslihat apa yang dimiliki oleh pria ini sehingga dia begitu mampu mempermainkan hidupnya.
 “Joy lihat aku” kata pria itu mengusik pikiran Joy. “Aku pasti tampak seperti penipu buatmu. Tapi aku memang harus begitu agar kau tak tertipu”. Joy tak mengerti sama sekali maksud perkataannya itu. “tak mengapa kalau bagimu aku tampak seperti bajingan karena kalau aku tak menjadi bajingan takkan kau peroleh kebahagiaan”. Joy semakin bingung dengan semua yang dia katakan. Bagaimana dia bisa berpikir kalau kebahagiaannya ditentukan oleh bajingan seperti dia, penipu seperti dia. Joy ingin membantah tapi kehabisan kata-kata. Pengakuannya yang tampak apa adanya membuatnya tak kuasa menyusun satu kata saja. Joy hanya membatu.
Kekuatan apa yang dimiliki oleh pria itu hingga mampu membiusnya demikian. “katakan sesuatu Joy!” pintanya pada Joy. Lidah Joy kelu. “bicaralah Joy!” sekali lagi pria itu memohon. Dengan segenap kekuatan yang Joy punya dia mendaratkan tangannya di pipi pria itu. Joy ingin membalaskan kekejaman yang dilakukan oleh pria itu terhadapnya dua minggu lalu. Pria itu tak merasakan apa-apa, malahan Joy yang merasakan sakit. Sangat sakit. Hatinya seperti diiris-iris. Bertahun-tahun dulu separuh jiwanya dia bawa pergi. Dua minggu lalu saat hampir seluruh ingatan yang Joy punya tentang pria itu mulai pudar dia datang kembali membawa amarah dan kebencian. Hari ini pria itu datang kembali dengan penuh rayuan.
Joy tak mungkin membohongi diri, bahwa pria yang ada dihadapannya saat ini adalah sosok yang dia sangat kagumi. Dia puja sampai mati. Berkali-kali pria itu datang dan pergi dengan wajah yang berbeda-beda tapi Joy tak pernah bisa memilih untuk menyukai wajah yang mana. Dia tetap menyukai pria itu meski dengan wajah yang bagaimanapun juga. Sejujurnya Joy memilih pria lembut ini, tapi meski pria ini datang dengan wajah beringas sekalipun Joy tak sanggup untuk membenci.
 Seluruh keluarga menentang Joy, teman-teman Joy bahkan mengira dia sudah gila. Joy tak habis pikir mengapa orang yang dia pikir dapat menolongnya sama sekali tak bisa melihat bahwa Joy sendiri ingin sependapat dengan mereka. Mengapa mereka hanya bisa menyalahkan Joy tanpa peduli bahwa Joy juga sedang berjuang keluar dari penjara perasaannya. Mencintai pria ini membuat Joy tak hanya bermusuhan dengan orang-orang terdekatnya tapi juga dengan dirinya sendiri.
Entah penutup wajah apa yang dikenakan pria ini hingga semua dapat tersamarkan. Pria ini tak tampak hitam, tapi tak juga putih. Ya, kelabu itu lebih tepatnya tapi saat orang-orang melihat hitamnya yang lebih pekat justru Joy hanya mampu melihat putih dalam diri pria ini. Sejujurnya Joy lebih suka kalau dia memiliki pandangan yang sama dengan kebanyakan orang. Tetapi, Joy tak sanggup menepis warna yang dia tangkap.  
“Terima kasih untuk tamparan ini Joy! Aku tahu kau memaafkanku”. Katanya mencoba membaca apa yang Joy pikirkan hingga terdiam begitu lama.
“Aku berniat untuk tidak muncul lagi dihadapanmu Joy, tapi sesuatu memaksaku kembali. Tapi kali ini akan kutepati. Aku benar-benar akan pergi.” Sambungnya lagi. Air mata Joy yang sedari tadi dibendung, tumpah dari segala arah. Rasanya Joy lebih rela dibuat lebam setiap hari daripada harus membiarkan dia pergi lagi. Perasaan macam apa ini pikir Joy mencoba mengingkari. Akhirnya Joy memutuskan angkat bicara, “Apa yang membuatmu untuk dapat tetap tinggal, Sky?” ucapan itu melesat begitu saja tanpa Joy rencanakan. Giliran Sky yang terdiam.
Joy mengenal pria itu dengan nama Sky meski belakangan Joy tahu dia tak hanya memiliki nama itu. Dia muncul di tempat lain dengan berbagai nama. Berkenalan dengan gadis yang ditemuinya dengan nama yang juga berbeda-beda. Tapi Joy tak pernah hiraukan hal itu. Bagi Joy cukuplah dia tahu bahwa pria ini Sky dan akan kekal menjadi Sky paling tidak dihatinya.
 “Berhenti mencintaiku dengan cara seperti itu Joy”. Tiba-tiba dia bersuara tanpa jeda. Joy tersentak, apakah ada cara mencintai yang salah pikir Joy. “Aku tak kuat menahan rasa sakit yang menggerogotiku ketika kau merelakanku melakukan apa saja. Aku menangis dengan sangat sampai tak sanggup lagi bersuara ketika kau membiarkanku pergi begitu saja. Aku tidak pernah benar-benar ingin lari darimu Joy. Tapi aku tak bisa menjadi diriku sendiri saat berhadapan denganmu”. Kalimat terakhir Sky membuat luka Joy yang tadi perih semakin perih karena ditetesi air asam. Bagaimana mungkin saat aku tak menuntut apa-apa bisa menjadikan Sky tidak menjadi dirinya. Bagaimana bisa disaat aku menerima dia apa adanya justru dia tak bisa tampil sebagaimana dia apa adanya.
“Sudah terlalu lama aku hidup dengan bersembunyi. Aku tak pernah berkesempatan menjadi diriku sendiri. Aku berharap setidaknya saat berhadapan denganmu aku bisa menjadi diri sendiri.” Tambah Sky tanpa menghiraukan apa yang sedang Joy pikirkan.
“Bahkan aku tak pernah ingin tahu masa lalumu atau latar belakangmu supaya kamu bebas tampil sebagaimana dirimu Sky!” sela Joy.
“Tapi masa lalu itu bagian dari diriku Joy. Dia akan terus mengikutiku. Pelan tapi pasti merongrong masa depanku. Dan asal kamu tahu masa depanku itu adalah kamu”. Ucap Sky dengan nada tak beraturan.
 “Atau kamu yang sama sekali tidak siap dengan masa laluku?” tanya Sky dengan nada menghakimi. Joy hanya tertunduk mencerna tuduhan itu.
“Satu-satunya alasanku meninggalkanmu beberapa tahun lalu adalah karena aku tak sanggup bersembunyi dari masa lalu meski kamu bangun tembok setinggi apapun untuk menghalangi dengan masa lalu. Dua minggu lalu aku kembali dengan sadis pun untuk itu, menunjukkan kalau aku punya masa lalu. Suram dan kejam. Dan hari ini aku katakan masa lalu itu adala bagian dari diriku yang seutuhnya jadi kamu tak bisa menafikannya Joy”. Sky tak lagi bisa menutupi dirinya dan memang dia tak pernah ingin.
“Aku seorang bajingan Joy. Aku seorang kriminal.” Tanpa ragu Sky menjelaskan siapa dirinya sesungguhnya.
“Lalu sebanyak apa orang-orang yang telah menjadi korban tindakan kriminalmu Sky?” tanya Joy bukan karena penasaran.
“Tak terhitung olehku lagi”. Jawab Sky tanpa ragu.
“Kamu pernah mendapat hukuman untuk itu?” tanya Joy lagi.
“Setiap hari adalah hukuman buatku Joy”. Dengan raut wajah sedih dan penuh penyesalan Sky menjawab.
Joy tak sanggup lagi bertindak sebagai polisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia sendiri pun sama sekali tak ingin mengajukannya. Ini lah yang Joy paling takutkan jika dia mengetahui kehidupan masa lalu Sky. Jikalau Joy mau jujur dengan diri sendiri pengakuan Sky hari ini tak sedikit pun meleset dari bayangannya tapi Joy takkan pernah rela melepas kekasih hatinya ke penjara karena itu Joy memilih tak mau tahu, sama sekali tak ingin tahu menahu dengan latar belakang Sky meski dengan begitu Joy terpaksa membohongi diri sendiri, menipu diri sendiri. Tapi kali ini Joy tak mungkin lagi berpura-pura tidak tahu karena sang pelaku pun sudah mengaku. Joy harus segera memutuskan apakah akan hidup bersama Sky dengan memberinya kebahagian semu atau melepas Sky pergi lagi untuk kesekian kalinya hingga Sky bisa terbebas dari hukuman yang dia ciptakan sendiri dan menemukan kebahagiaan sejati? Joy berpikir keras. Setidaknya Joy terbebas dari kenaifan dan Sky bisa keluar dari persembunyiaannya yang sudah terlalu lama mereka kenakan. Joy ingin melihat putih karena memang itu benar adanya putih tak bercampur dengan hitam.
“Sky, pergilah serahkan dirimu kepada pihak yang berwajib. Aku akan menunggu hingga kau kembali. Beginilah caraku mencintaimu Sky”. Joy memutuskan menunggu.


Kamis, 10 November 2016

Ditolak Senja



Senja Tak Bertuan
Kata senja,
“Aku bukan pencuri asa.”
“Aku pun tak mungkin menenggelamkan rasa.”
“Pun aku tak ingin menyambut pekat meski hanya untuk sesaat.”
“Aku tak ingin menyembunyikan terang, karena aku pun suka benderang.”
“Aku tetaplah keindahan walau hanya sebentar.”

Keluh senja,
“Sebut saja aku renta, hingga aku tak bernyawa.”
“Aku tinggal beberapa detik saja maka abaikan pun tak mengapa.”
“ Aku senja yang tak lama.”
“Bisakah kau akui saja, aku tetaplah keindahan walau hanya sementara.”

Senja tak lagi bicara
Sadar semua sedang bersandiwara
Berpura-pura mengagumi dirinya
Ketika jingga menghilang
Cacian yang dia dapatkan

Dalam diamnya senja mengirim sejuta makna,
“Tertawalah menyambut fajar,
Dia memberimu pengharapan,
Lupakan senja yang tergilas hitam malam,
Abaikan asa yang kutitipkan.”

Pinta senja,
“Aku senja tak bertuan, takkan pernah menyimpan kebencian.”
“Aku senja yang kan berlalu, memohon tak tahu malu.”
“Aku senja hendak tenggelam, merintih pada malam.”
“Kiranya jangan kau lupakan keindahanku yang hanya sebentar.”
“Simpanlah rindu untukku meski secuil.”
“Dan sampaikan salamku pada fajar”.
                                                           

Rabu, 21 September 2016

Dia adalah Bapak





Tak mudah menuliskan tentang dia. Seberapa keras pun aku berusaha untuk merangkai kata-kata manis nan indah untuknya jarang sekali aku berhasil. Tentang dia aku tak mampu untuk mengada-ada.  Hiperbola tak akan pernah berlaku meski dengan itu aku berniat membesarkan namanya. Sepertinya seluruh kosa-kata tak pernah cukup mampu untuk mengutarakan sosoknya. Ya, aku mengaku kekuatan kata-kata begitu luar biasa maka kukerahkan segenap kekuatanku  memutar isi kepala hanya untuk menemukan diksi yang tepat. Ternyata isi kepala tak selalu bisa keluar dengan begitu saja. Aku pikir aku mampu memperkenalkan sosoknya pada dunia hanya dengan isi kepala yang kupunya. Aku salah. Aku tak mengenalnya hanya dengan kepala, ingatan yang kupunya tentang dia tak hanya ada di kepala. Bahkan tentang dia takkan pernah hanya menjadi sebuah ingatan baik saat dia masih hidup maupun kelak ketika dia tak lagi ada bersamaku, di hatiku dia akan selalu hidup. Takkan kubiarkan dia menjadi tinggal kenangan. Kenangan hanya milik mereka yang ditinggalkan sementara aku yakin dia takkan pernah meninggalkanku meski kelak dia pergi jauh atau kelak aku tak lagi bisa melihatnya dengan mataku, menyentuhnya dengan tanganku, mendengarnya memberikan petuah dengan telingaku, mencium bau peluhnya dengan hidungku. Kelak semua inderaku boleh kehilangannya tapi indera itu takkan pernah bisa memanipulasiku karena dia senantiasa mendiami hatiku. Dia adalah bapak.
Mungkin pikirmu tentu saja aku bisa berkata demikian, dia adalah bapakku. Dalam darahku mengalir darahnya. Lewat wajahku terpancar wajahnya. Secara genetika pun aku tak terpisahkan darinya. Tapi hubungan darah sama sekali bukan alasan kamu terkesan kepada seseorang hingga mengidolakan orang tersebut. Tanpa perlu aku sebutkan pun kita tahu ada begitu banyak orang yang sangat-sangat membenci ayahnya, membenci ibunya atau sebaliknya. Di tempat lain lagi ada begitu banyak orang yang tak memiliki hubungan keluarga sama sekali, bukan sanak famili, atau bahkan tak pernah bertatap-muka barang sekali tapi menganggap orang tersebut istimewa, hingga orang tersebut begitu berpengaruh dalam hidupnya. Seseorang dapat begitu berarti bagimu tak melulu soal siapa dia tapi apa pengaruhnya terhadap hidupmu, mungkin itulah sebabnya manusia selalu ingin memberi pengaruh terhadap orang lain terlepas dari baik buruknya pengaruh yang dia berikan. Begitu pun bapak sepak-terjangnya di tengah-tengah keluarga terlebih kepadaku membuat dia cukup pantas bahkan sangat layak untuk diidolakan dan dibanggakan.
Bapak hanyalah seorang petani miskin. Rasanya sangat memalukan untuk menyebutnya seorang petani karena seorang petani sudah seharusnya memiliki lahan sendiri paling tidak barang setapak. Tapi bapak hidup bergantung dari beberapa petak sawah yang dia sewa. Jika sebelum dilahirkan ke dunia Tuhan bertanya kepadaku terlebih dahulu apakah aku mau dilahirkan lewat benihnya, sepertinya aku akan menjawab tidak saat itu. Siapa yang ingin terlahir dari seorang petani miskin jangankan untuk mengejar impian masa depan, untuk lauk santapan sehari-hari pun harus puas dengan ikan asin. Namun aku bersyukur Tuhan tak bertanya demikian, aku berterima kasih karena kita tak mampu memilih dari siapa kita akan lahir. Memilih tak selalu mudah. Pilihan-pilihan kita juga tak selalu tepat bahkan lebih sering melesat. Kalaupun aku boleh memilih siapa yang akan jadi orangtuaku bisa saja aku memilih orangtua yang tidak tepat. Tapi Tuhan tidak pernah salah memilih dia menempatkan kita ditengah-tengah keluarga yang tepat dengan bapak yang tepat, ibu yang tepat, juga saudara-saudara yang tepat. Terlahir menjadi anak bungsu dari empat bersaudara di tengah-tengah keluarga petani miskin itu adalah nikmat Tuhan luar biasa yang tak pernah bisa kupungkiri. Memiliki bapak yang jalan hidupnya penuh dengan bebatuan tajam, duri yang menusuk tak terperi membuat petualanganku di dunia ini selalu menarik dan penuh kejutan. Hasil tani bapak yang morat-marit tak menyusutkan keberhasilan bapak sebagai seorang kepala keluarga di mataku. Kelemahan ekonomi keluarga kami sama sekali tak mengurangi kekuatan bapak bagiku. Aku bisa melihat semangatnya yang berkobar. Jerih payahnya yang tak pernah goyah. Kegigihan yang tak mengalah pada pahit getir kehidupan. Keberadaannya yang tak punya apa-apa justru membuatku melihat bahwa dia memiliki segalanya yang harus dimilliki seorang bapak.
Bapak seorang pemimpi. Tak dihiraukannya orang yang berkata, “tak tahu diri, tak punya apa-apa malah menghantarkan anaknya ke bangku kuliah”. Diabaikannya celotehan tetangga yang mengejek tak habis-habisnya. Dia fokus pada apa yang menjadi tujuannya. Suatu kali saat aku masih sangat kecil dia dengan tegas berkata, “Ta, kelak rumah butut kita ini akan berganti gedong. Tak ada lagi atap yang bocor. Lantai yang bolong-bolong. Di depan rumah kita akan terparkir mobil milik kalian. Bapak bisa duduk bersantai di depan rumah sambil menyeruput kopi dan memandang ke jalan dimana dahulu dari sana datangnya penghinaan”. Beberapa tahun belakangan apa yang dikatakan bapak ketika aku kecil dulu menjadi kenyataan. Orang-orang yang sempat menghina bapak dulu tertunduk malu.
Belum pernah aku memberikan sesuatu yang berharga wujud cintaku pada bapak. Bahkan saat aku menelepon ke hpnya pertanyaanku selalu sama, “Halo Pak, mamak mana?” itu pun tak ada protes darinya, malah selalu menyebut dia berbahagia kami begitu peduli terhadap istrinya. Mungkin guratan sederhana ini dapat menyenangkannya. Aku tahu bapak ingin sekali aku menulis tentang dia. Itu saja.