“Tok... tok... tok!”
ketukan pintu itu hampir saja membunuhnya. Sejak dua minggu belakangan dia
seperti dibayang-bayangi oleh sosok menakutkan. Setiap kali mendengar bunyi
langkah kaki mendekat ke arah rumahnya dia dapat mengucurkan keringat dengan
deras tiba-tiba. Tak jarang juga dia bersembunyi di balik lemari ketika ada
yang berteriak dari luar rumah memanggil namanya. Entah setan apa yang sedang
menghantuinya hingga ketenangan yang dia miliki selama ini sirna. Terbang entah
kemana. Tak bersisa. Bahkan untuk mengenangkannya saja dia seolah tidak berhak.
Dunianya sama sekali berubah. Sifat-sifat asli yang dia miliki terkubur.
Bodohnya dia sendirilah yang menggali kubur itu. Dia terperangkap pada jerat
yang dia ciptakan sendiri. Semua itu terjadi diluar prediksinya. kesadaran yang
dia miliki tak cukup mampu untuk menyadarkannya akan situasi yang dialaminya
saat ini.
Dia sama sekali tak
memiliki kekuatan meski hanya untuk melangkah mendekat ke jendela dan melihat
dari balik jendela siapa yang mengetok pintu dengan irama yang mengejutkan itu.
“tok...tok...tok!” sekali lagi ketukan itu menggema dengan nada yang lebih
tinggi dan kali ini dia tak mungkin berdiam lebih lama lagi. Dia mengumpulkan
seluruh puing-puing keberanian miliknya yang tersisa. Usahanya tidak sia-sia dia berhasil melangkah
menuju jendela. Pelan-pelan dia menyibak tirai yang menghalangi penglihatannya.
Pandangannya tak dapat menangkap dengan jelas siapa sosok itu, tapi dia dapat
melihat dengan jelas lengannya yang kekar dengan sebuah tato bergambar ular
cobra diatasnya.
Detak jantungnya
berpacu seperti baru menyelesaikan lari
cepat disaat sesungguhnya dia berharap jantung itu sebaiknya berhenti
saja. Satu-satunya hal yang dia inginkan saat itu adalah mati. Lenyap. Musnah. Keberadaannya sama sekali tak mempunyai arti
lagi. Saat rasa seperti itu terus bergelora dalam dirinya, tanpa diduga
terdengar suara lembut dari balik pintu itu, “Joy, tolong buka pintunya aku mau
bicara”. Dia terpesona dengan kelembutan suara itu. Dia mengingat-ingat kapan
terakhir kali dia mendengar suara selembut itu. “Apakah aku mengenal suara
ini?” tanyanya dalam hati. Dia sama sekali lupa kalau suara selembut itu pernah
membuat gendang telinganya bergetar. “Joy!” sekali lagi caranya memanggil nama
itu mampu membereskan suasana hatinya yang sedang tidak karuan. Ya, dia pernah
mendengar suara yang sama beberapa tahun lalu, “tapi siapa? Di mana aku
mendengarnya?” sambil berpikir keras dia bertanya mencoba mengingat setiap
orang yang pernah memanggilnya dengan sebutan “Joy”.
Tidak banyak yang
memanggilnya dengan nama itu, hanya orang-orang terdekat dan beberapa sahabat
seharusnya akan sangat mudah menemukan pemilik suara itu. Dengan berpikir dia
tidak berhasil sama sekali. Seluruh ingatan yang ia punya telah dia bongkar,
namun dia masih gagal. Kegagalannya untuk mengingat membuat rasa takutnya raib,
dengan santai dia buka pintu itu. Dia tertegun melihat sosok yang berdiri
dihadapannya. Sosok itu adalah masa lalunya yang hilang. Sekaligus sosok yang membuatnya
tidak karuan, ketakutan, gemetar, juga gentar.
Dua minggu lalu dia
datang dengan sikap yang sangat bertolak belakang. Dia datang dengan amarah
yang sekian tahun terpendam tak pernah terluapkan. Dua minggu lalu saat untuk
pertama kalinya dia muncul lagi setelah bertahun-tahun menghilang dia datang
seperti gunung berapi yang siap meledak, memuntahkan awan panas. Dua minggu
lalu Joy sampai meronta menerima luapan emosinya. Joy kesakitan tak sanggup
menolak awan panas yang dia semburkan. Dia mengamuk kepada Joy seperti orang
yang kehilangan akal. Dia bahkan meninggalkan luka lebam di sekujur tubuh Joy.
Kejadian itu yang membuat Joy menjadi begitu tertutup. Keceriaannya hilang. Dia
dipenuhi rasa takut hingga mengharuskannya menutup pintu dan jendela rapat-rapat
meski di siang bolong. Semua itu dia lakukan untuk menghindari sosok pria yang
saat ini berdiri dihadapannya.
Hari ini dia datang
dengan tampang yang sama sekali berbeda hingga sulit bagi Joy mempercayai apa
yang sedang dilihatnya. Suara yang dua minggu lalu sempat membuatnya tak berani
untuk hidup hari ini malah memberinya semangat hidup. Teriakan yang dua minggu
lalu begitu membuatnya gentar hari ini malah membuatnya tegar. Sungguh Joy
ingin menolak kenyataan ini, nyatanya dia tak mampu. Dia malah menerima dengan
rela. Tipu muslihat apa yang dimiliki oleh pria ini sehingga dia begitu mampu
mempermainkan hidupnya.
“Joy lihat aku” kata pria itu mengusik pikiran
Joy. “Aku pasti tampak seperti penipu buatmu. Tapi aku memang harus begitu agar
kau tak tertipu”. Joy tak mengerti sama sekali maksud perkataannya itu. “tak
mengapa kalau bagimu aku tampak seperti bajingan karena kalau aku tak menjadi
bajingan takkan kau peroleh kebahagiaan”. Joy semakin bingung dengan semua yang
dia katakan. Bagaimana dia bisa berpikir kalau kebahagiaannya ditentukan oleh
bajingan seperti dia, penipu seperti dia. Joy ingin membantah tapi kehabisan
kata-kata. Pengakuannya yang tampak apa adanya membuatnya tak kuasa menyusun
satu kata saja. Joy hanya membatu.
Kekuatan apa yang
dimiliki oleh pria itu hingga mampu membiusnya demikian. “katakan sesuatu Joy!”
pintanya pada Joy. Lidah Joy kelu. “bicaralah Joy!” sekali lagi pria itu
memohon. Dengan segenap kekuatan yang Joy punya dia mendaratkan tangannya di
pipi pria itu. Joy ingin membalaskan kekejaman yang dilakukan oleh pria itu
terhadapnya dua minggu lalu. Pria itu tak merasakan apa-apa, malahan Joy yang
merasakan sakit. Sangat sakit. Hatinya seperti diiris-iris. Bertahun-tahun dulu
separuh jiwanya dia bawa pergi. Dua minggu lalu saat hampir seluruh ingatan
yang Joy punya tentang pria itu mulai pudar dia datang kembali membawa amarah
dan kebencian. Hari ini pria itu datang kembali dengan penuh rayuan.
Joy tak mungkin
membohongi diri, bahwa pria yang ada dihadapannya saat ini adalah sosok yang
dia sangat kagumi. Dia puja sampai mati. Berkali-kali pria itu datang dan pergi
dengan wajah yang berbeda-beda tapi Joy tak pernah bisa memilih untuk menyukai
wajah yang mana. Dia tetap menyukai pria itu meski dengan wajah yang bagaimanapun
juga. Sejujurnya Joy memilih pria lembut ini, tapi meski pria ini datang dengan
wajah beringas sekalipun Joy tak sanggup untuk membenci.
Seluruh keluarga menentang Joy, teman-teman
Joy bahkan mengira dia sudah gila. Joy tak habis pikir mengapa orang yang dia
pikir dapat menolongnya sama sekali tak bisa melihat bahwa Joy sendiri ingin
sependapat dengan mereka. Mengapa mereka hanya bisa menyalahkan Joy tanpa peduli
bahwa Joy juga sedang berjuang keluar dari penjara perasaannya. Mencintai pria
ini membuat Joy tak hanya bermusuhan dengan orang-orang terdekatnya tapi juga
dengan dirinya sendiri.
Entah penutup wajah apa
yang dikenakan pria ini hingga semua dapat tersamarkan. Pria ini tak tampak
hitam, tapi tak juga putih. Ya, kelabu itu lebih tepatnya tapi saat orang-orang
melihat hitamnya yang lebih pekat justru Joy hanya mampu melihat putih dalam
diri pria ini. Sejujurnya Joy lebih suka kalau dia memiliki pandangan yang sama
dengan kebanyakan orang. Tetapi, Joy tak sanggup menepis warna yang dia
tangkap.
“Terima kasih untuk
tamparan ini Joy! Aku tahu kau memaafkanku”. Katanya mencoba membaca apa yang
Joy pikirkan hingga terdiam begitu lama.
“Aku berniat untuk
tidak muncul lagi dihadapanmu Joy, tapi sesuatu memaksaku kembali. Tapi kali
ini akan kutepati. Aku benar-benar akan pergi.” Sambungnya lagi. Air mata Joy
yang sedari tadi dibendung, tumpah dari segala arah. Rasanya Joy lebih rela dibuat
lebam setiap hari daripada harus membiarkan dia pergi lagi. Perasaan macam apa
ini pikir Joy mencoba mengingkari. Akhirnya Joy memutuskan angkat bicara, “Apa
yang membuatmu untuk dapat tetap tinggal, Sky?” ucapan itu melesat begitu saja
tanpa Joy rencanakan. Giliran Sky yang terdiam.
Joy mengenal pria itu
dengan nama Sky meski belakangan Joy tahu dia tak hanya memiliki nama itu. Dia
muncul di tempat lain dengan berbagai nama. Berkenalan dengan gadis yang
ditemuinya dengan nama yang juga berbeda-beda. Tapi Joy tak pernah hiraukan hal
itu. Bagi Joy cukuplah dia tahu bahwa pria ini Sky dan akan kekal menjadi Sky
paling tidak dihatinya.
“Berhenti mencintaiku dengan cara seperti itu
Joy”. Tiba-tiba dia bersuara tanpa jeda. Joy tersentak, apakah ada cara
mencintai yang salah pikir Joy. “Aku tak kuat menahan rasa sakit yang
menggerogotiku ketika kau merelakanku melakukan apa saja. Aku menangis dengan
sangat sampai tak sanggup lagi bersuara ketika kau membiarkanku pergi begitu
saja. Aku tidak pernah benar-benar ingin lari darimu Joy. Tapi aku tak bisa
menjadi diriku sendiri saat berhadapan denganmu”. Kalimat terakhir Sky membuat
luka Joy yang tadi perih semakin perih karena ditetesi air asam. Bagaimana
mungkin saat aku tak menuntut apa-apa bisa menjadikan Sky tidak menjadi
dirinya. Bagaimana bisa disaat aku menerima dia apa adanya justru dia tak bisa
tampil sebagaimana dia apa adanya.
“Sudah terlalu lama aku
hidup dengan bersembunyi. Aku tak pernah berkesempatan menjadi diriku sendiri.
Aku berharap setidaknya saat berhadapan denganmu aku bisa menjadi diri sendiri.”
Tambah Sky tanpa menghiraukan apa yang sedang Joy pikirkan.
“Bahkan aku tak pernah
ingin tahu masa lalumu atau latar belakangmu supaya kamu bebas tampil
sebagaimana dirimu Sky!” sela Joy.
“Tapi masa lalu itu bagian
dari diriku Joy. Dia akan terus mengikutiku. Pelan tapi pasti merongrong masa
depanku. Dan asal kamu tahu masa depanku itu adalah kamu”. Ucap Sky dengan nada
tak beraturan.
“Atau kamu yang sama sekali tidak siap dengan
masa laluku?” tanya Sky dengan nada menghakimi. Joy hanya tertunduk mencerna
tuduhan itu.
“Satu-satunya alasanku
meninggalkanmu beberapa tahun lalu adalah karena aku tak sanggup bersembunyi
dari masa lalu meski kamu bangun tembok setinggi apapun untuk menghalangi
dengan masa lalu. Dua minggu lalu aku kembali dengan sadis pun untuk itu,
menunjukkan kalau aku punya masa lalu. Suram dan kejam. Dan hari ini aku
katakan masa lalu itu adala bagian dari diriku yang seutuhnya jadi kamu tak
bisa menafikannya Joy”. Sky tak lagi bisa menutupi dirinya dan memang dia tak
pernah ingin.
“Aku seorang bajingan
Joy. Aku seorang kriminal.” Tanpa ragu Sky menjelaskan siapa dirinya
sesungguhnya.
“Lalu sebanyak apa
orang-orang yang telah menjadi korban tindakan kriminalmu Sky?” tanya Joy bukan
karena penasaran.
“Tak terhitung olehku
lagi”. Jawab Sky tanpa ragu.
“Kamu pernah mendapat
hukuman untuk itu?” tanya Joy lagi.
“Setiap hari adalah
hukuman buatku Joy”. Dengan raut wajah sedih dan penuh penyesalan Sky menjawab.
Joy tak sanggup lagi
bertindak sebagai polisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia sendiri pun sama
sekali tak ingin mengajukannya. Ini lah yang Joy paling takutkan jika dia mengetahui
kehidupan masa lalu Sky. Jikalau Joy mau jujur dengan diri sendiri pengakuan
Sky hari ini tak sedikit pun meleset dari bayangannya tapi Joy takkan pernah
rela melepas kekasih hatinya ke penjara karena itu Joy memilih tak mau tahu,
sama sekali tak ingin tahu menahu dengan latar belakang Sky meski dengan begitu
Joy terpaksa membohongi diri sendiri, menipu diri sendiri. Tapi kali ini Joy
tak mungkin lagi berpura-pura tidak tahu karena sang pelaku pun sudah mengaku.
Joy harus segera memutuskan apakah akan hidup bersama Sky dengan memberinya
kebahagian semu atau melepas Sky pergi lagi untuk kesekian kalinya hingga Sky
bisa terbebas dari hukuman yang dia ciptakan sendiri dan menemukan kebahagiaan
sejati? Joy berpikir keras. Setidaknya Joy terbebas dari kenaifan dan Sky bisa
keluar dari persembunyiaannya yang sudah terlalu lama mereka kenakan. Joy ingin
melihat putih karena memang itu benar adanya putih tak bercampur dengan hitam.
“Sky, pergilah serahkan
dirimu kepada pihak yang berwajib. Aku akan menunggu hingga kau kembali.
Beginilah caraku mencintaimu Sky”. Joy memutuskan menunggu.










